PENANAMAN PADI SISTEM KERING SEBAGAI UPAYA INOVASI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DAN EFEKTIF

Lazismu Kalimantan Barat bersama kelompok binaan Master Tani di Desa Salatiga, Kabupaten Sambas, kembali mengambil langkah inovatif dalam pengembangan sektor pertanian lokal. Kali ini, melalui penerapan teknik penanaman padi sistem kering (pertanian lahan kering) yang menjadi solusi bagi lahan-lahan non-irigasi, terutama saat menahan tantangan musim kemarau dan keterbatasan sumber udara.

Teknik ini dikenal sebagai metode padi gogo atau padi ladang, yaitu penanaman padi di lahan kering tanpa sawah dan tidak bergantung pada irigasi basah. Dalam praktiknya, petani menggunakan mulsa alami yang berasal dari rumput liar yang telah dikeringkan, kemudian ditumpuk di atas bedengan. Mulsa ini berfungsi untuk menjaga kelembapan tanah , menghambat pertumbuhan gulma , serta menyuburkan tanah secara alami seiring proses pelapukannya.

Bibit padi ditanam langsung ke dalam tanah yang telah diolah dan dibentuk menjadi bedengan. Proses ini dilakukan secara manual dengan jarak tanam yang disesuaikan agar tanaman mendapatkan sinar matahari dan ruang tumbuh yang optimal. Padi yang digunakan adalah jenis padi lokal yang telah diseleksi agar adaptif terhadap kondisi tanah kering.

Keunggulan dari sistem ini adalah:

  1. Efisiensi udara : Tidak memerlukan penampungan udara seperti pada sawah irigasi.

  2. Ramah lingkungan : Tidak menggunakan bahan kimia sintetis, dan mulsa alami mengurangi kebutuhan pupuk tambahan.

  3. Biaya rendah : Mengurangi kebutuhan udara, alat berat, dan spesifikasi.

  4. Ketahanan iklim : Cocok untuk wilayah dengan curah hujan yang tidak menentu atau minim irigasi teknis.

Dalam satu lahan borongan yang ditanami, metode ini diperkirakan akan menghasilkan sekitar 800 kg gabah , angka yang sangat menjanjikan untuk kategori pertanian kering. Hasil ini juga menunjukkan bahwa teknik pertanian lahan kering bisa menjadi alternatif yang menjanjikan untuk pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya di Kalimantan Barat yang memiliki banyak lahan tadah hujan.

Melalui upaya ini, Lazismu Kalimantan Barat terus mendorong kemandirian petani dengan memperkenalkan teknik pertanian adaptif dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan berbasis komunitas.